Pada
artikel berikut ini akan dibahas mengenai diagnosis dan pemeriksaan penyaring (screening) diabetes melitus. Mari kita
simak bersama..
Diagnosis
Untuk
menegakkan diagnosis diabetes melitus atau memastikan bahwa penderita tersebut memang
menderita diabetes melitus maka ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar konsentrasi glukosa
darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa
secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena bukan pemeriksaan glukosa darah
kapiler dengan glukometer. Pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer dapat
dilakukan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan. Untuk memastikan diagnosis diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya
(yang melakukan program pemantauan kendali mutu secara teratur).1,4
Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia (PERKENI) membagi alur diagnosis diabetes melitus menjadi dua bagian
besar berdasarkan ada tidaknya keluhan klasik diabetes melitus. Keluhan klasik diabetes melitus terdiri
dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang
jelas, sedangkan keluhan lain diabetes melitus dapat berupa lemas, kesemutan, luka yang sulit
sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria dan pruritus vulvae pada wanita.
Apabila ditemukan keluhan klasik diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu
kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, namun apabila tidak ditemukan
keluhan klasik diabetes melitus, maka diperlukan dua kali pemeriksaan glukosa darah abnormal.1,4
Diagnosis diabetes melitus juga dapat ditegakkan
melalui cara:1,3,4,5
- Jika keluhan klasik ditemukan,
maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis diabetes melitus.
- Pemeriksaan glukosa plasma puasa
≥ 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik.
- Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus.
Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan
penyaring dilakukan pada mereka yang mempunyai risiko diabetes melitus, namun tidak
menunjukkan adanya gejala diabetes melitus. Pemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien
diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT),
sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mereka. Pasien dengan TGT
dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju diabetes melitus. Setelah 5-10 tahun kemudian 1/3
kelompok TGT akan berkembang menjadi diabetes melitus, 1/3 tetap TGT dan 1/3 lainnya kembali
normal. Adanya TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. Pada kelompok
TGT ini risiko terjadinya aterosklerosis lebih tinggi dibandingkan kelompok
normal. TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan
dislipidemia. Peran aktif para pengelola kesehatan sangat diperlukan agar
deteksi diabetes melitus dapat ditegakkan sedini mungkin dan pencegahan primer dan sekunder
dapat segera diterapkan.1,4
Pemeriksaan
penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan konsentrasi glukosa darah sewaktu
atau konsentrasi glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi
glukosa oral (TTGO) standar.4
Berikut pembahasan mengenai diabetes melitus dalam blog ini meliputi epidemiologi diabetes melitus, definisi diabetes melitus, faktor risiko diabetes melitus, diagnosis dan pemeriksaan penyaring (screening) diabetes melitus, tipe atau klasifikasi diabetes melitus, dan komplikasi diabetes melitus.
Berikut pembahasan mengenai diabetes melitus dalam blog ini meliputi epidemiologi diabetes melitus, definisi diabetes melitus, faktor risiko diabetes melitus, diagnosis dan pemeriksaan penyaring (screening) diabetes melitus, tipe atau klasifikasi diabetes melitus, dan komplikasi diabetes melitus.
Referensi:
- Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2011.
- Suyono, Slamet. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Ndraha, Suzanna. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini. Medicinus Vol. 27, No. 2, Agustus 2014: 9-16.
- Purnamasari, Dyah. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. hlm 423-434.
- Soewondo, Pradana. Ketoasidosis Diabetik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soewondo, Pradana. Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soemadji, Djoko Wahono. Hipoglikemia Iatrogenik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Waspadji, Sarwono. Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar