Artikel
berikut ini akan membahas mengenai komplikasi dari diabetes melitus, baik
komplikasi akut maupun komplikasi dalam jangka waktu lama. Mari kita simak
bersama..
Komplikasi
Pada
diabetes melitus yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun
komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Sejak
ditemukan banyak obat untuk menurunkan glukosa darah, terutama setelah
ditemukannya insulin, angka kematian penderita diabetes akibat komplikasi akut
bisa menurun drastis. Kelangsungan hidup penderita diabetes lebih panjang dan
diabetes dapat dikontrol lebih lama. Di Amerika Serikat, diabetes melitus merupakan penyebab
utama dari end-stage renal disease
(ESRD), nontraumatic lowering amputation,
dan adult blindness.3
Berikut
ini merupakan komplikasi dari diabetes melitus:
a.
Komplikasi
akut meliputi:
1.
Ketoasidosis
diabetik
Ketoasidosis
diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi-kekacauan metabolik yang ditandai
oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh
defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD merupakan komplikasi akut diabetes
yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300600 mg/dL),
disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton(+) kuat. Osmolaritas
plasma meningkat (300320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap. KAD
merupakan salah satu komplikasi akut diabetes melitus yang serius dan
membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat diuresis osmotik, KAD biasanya
mengalami dehidrasi berat dan bahkan dapat sampai menyebabkan syok.1,6
2.
Status
Hiperglikemia Hiperosmolar
Status
Hiperglikemia Hiperosmolar (SHH) termasuk salah satu komplikasi akut dan emergensi
diabetes melitus. SHH ditandai oleh hiperglikemia, hiperosmolar tanpa disertai adanya
ketosis. Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi
(6001200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat
meningkat (330380 mOs/mL), plasma keton (+/), anion gap normal atau sedikit
meningkat. Gejala klinis utama adalah dehidrasi berat, hiperglikemia berut, dan
seringkali disertai gangguan neurologis dengan atau tanpa adanya ketosis. Perjalanan
klinis SHH biasanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu (beberapa hari
sampai beberapa minggu), dengan gejala khas meningkatnya rasa haus disertai
poliuria, polidipsia, dan penurunan berat badan. Koma hanya ditemukan kurang
dari 10% kasus.1,7
Kedua
kondisi di atas, KAD dan SHH mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang
tinggi. Memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan penatalaksanaan
yang memadai.1
3.
Hipoglikemia
Hipoglikemia
secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah nilai normal. Hipoglikemia
ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL. Respon regulasi
non-pankreas terhadap hipoglikemia dimulai pada kadar glukosa darah 63-65 mg/dL
(3,5-3,6 mmol/L). Oleh sebab itu, dalam konteks terapi diabetes, diagnosis
hipoglikemia ditegakkan bila kadar glukosa plasma < 63 mg/dL (3,5
mmol/L).1,8
Bila
terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan
kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh
penggunaan sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat
berlangsung lama, sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan
waktu kerja obat telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk
pengawasannya (2472 jam atau lebih, terutama pada pasien dengan gagal ginjal
kronik atau yang mendapatkan terapi dengan OHO kerja panjang). Hipoglikemia
pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari, mengingat dampaknya
yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan
kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lambat dan memerlukan pengawasan yang
lebih lama.1
Gejala
hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar-debar, banyak keringat,
gemetar, dan rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah,
kesadaran menurun sampai koma).1 Hipoglikemia akut menunjukkan
gejala dan Triad Whipple merupakan
panduan klasifikasi klinis hipoglikemia yang bermanfaat. Triad tersebut
meliputi: a) keluhan yang menunjukkan adarrya kadar glukosa darah plasma yang
rendah, b) kadar glukosa darah
yang rendah (kurang dari 3
mmol/L hipoglikemia pada diabetes), dan c) hilangnya secara cepat
keluhan-keluhan sesudah kelainan biokimiawi dikorekasi.8
b. Komplikasi kronik meliputi:
1.
Makroangiopati:
i.
Kerusakan
pembuluh darah jantung
Diabetes
melitus merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan lemak di dinding
yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya suplai darah ke otot
jantung berkurang dan tekanan darah meningkat, sehingga kematian mendadak bisa
terjadi. Prevalensi penyakit jantung koroner dengan penyakit diabetes melitus (baik tipe 1
dan 2) berkisar 1.0% s/d 25.2% pada populasi klinik dan 1.8% s/d 43.4% dalam
penelitian pada populasi. Lima puluh persen dari prevalensi penyakit jantung
koroner berkisar 0.5% s/d 8.7% dengan diabetes melitus tipe 1 dan berkisar 9.8% s/d 22.3% dengan diabetes melitus tipe 2.3
Kewaspadaan
untuk kemungkinan terjadinya penyakit pembuluh darah koroner harus ditingkatkan
terutama untuk mereka yang mempunyai risiko tinggi terjadinya kelainan
aterosklerosis seperti mereka yang mempunyai riwayat keluarga penyakit pembuluh
darah koroner ataupun riwayat keluarga diabetes melitus yang kuat. Jika ada kecurigaan
seperti misalnya ketidaknyamanan pada daerah dada, harus segera dilanjutkan
dengan pemeriksaan penyaring yang teliti untuk mencari dan menangkap
kemungkinan adanya penyakit pembuluh darah koroner, paling sedikit dengan
pemeriksaan EKG saat istirahat, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan EKG
dengan beban, serta sarana konfirmasi diagnosis lain untuk deteksi dini Coronary Artery Disease (CAD). Pada penyandang
diabetes melitus, rasa nyeri mungkin tidak nyata akibat adanya neruopati yang sering sekali
terjadi pada penyandang diabetes melitus.9
ii.
Kerusakan
pembuluh darah perifer
Kerusakan
pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang dinamakan Peripheral
Vascular Disease (PVD) sering terjadi pada penyandang diabetes melitus. Komplikasi ini dapat
terjadi lebih dini dan prosesnya lebih cepat pada penderita diabetes melitus daripada orang
yang tidak menderita diabetes melitus. Denyut pembuluh darah di kaki terasa lemah atau tidak
terasa sama sekali. Bila diabetes melitus berlangsung selama 10 tahun lebih, sepertiga pria dan
wanita dapat mengalami kelainan ini. Dan apabila ditemukan PVD disamping
diikuti gangguan saraf atau neuropati dan infeksi atau luka yang sukar sembuh,
pasien biasanya sudah mengalami penyempitan pada pembuluh darah jantung.
Biasanya terjadi dengan gejala tipikal claudicatio
intermittent, meskipun sering tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki
merupakan kelainan yang pertama muncul.1,3
Mengenali
dan mengelola berbagai faktor risiko terkait terjadinya kaki diabetes dan ulkus
diabetes merupakan hal yang paling penting dalam usaha pencegahan terjadinya
masalah kaki diabetes. Adanya perubahan bentuk kaki (callus, kapalan, dll.),
neurupati dan adanya penurunan suplai darah ke kaki merupakan hal yang harus
selalu dicari dan diperhatikan pada praktik pengelolaan diabetes melitus sehari-hari.
Penyuluhan pada para penyandang diabetes melitus mengenai diabetes melitus pada umumnya serta
perawatan kaki pada khususnya harus digalakkan.9
iii.
Kerusakan
pembuluh darah otak
Prevalensi
komplikasi pembuluh darah otak berupa stroke dengan penyakit diabetes melitus (baik tipe 1
dan 2) berkisar 1.0% s/d 11.3% pada populasi klinik dan 2.8% s/d 12.5% dalam
penelitian pada populasi. Lima puluh persen dari prevalensi stroke berkisar
0.5% and 4.3% dengan diabetes melitus tipe 1 dan berkisar 4.1% and 6.7% dengan diabetes melitus tipe 2.3
2.
Mikroangiopati:
i.
Kerusakan
mata (Retinopati)
Berbagai
kelainan akibat diabetes melitus dapat terjadi pada retina, mulai dari retinopati diabetik
non-proliferatif sampai perdarahan retina, kemudian juga ablasio retina dan
lebih lanjut lagi dapat mengakibatkan kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada
mata yang disebabkan oleh diabetes melitus, yaitu: 1) retinopati, retina mendapatkan makanan
dari banyak pembuluh darah kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi
bisa merusak pembuluh darah retina; 2) katarak, lensa yang biasanya jernih
bening dan transparan menjadi keruh sehingga menghambat masuknya sinar dan
makin diperparah dengan adanya glukosa darah yang tinggi; dan 3) glaukoma,
terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak saraf mata. Diagnosis
dini retinopati dapat diketahui melalui pemeriksaan retina secara rutin. Kendali
glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan memberatnya
retinopati. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati.1,3,9
ii.
Kerusakan
ginjal (Nefropati)
Kelainan
yang terjadi pada ginjal penyandang diabetes melitus dimulai dengan adanya mikroalbuminuria,
dan kemudian berkembang menjadi proteinuria secara klinis, berlanjut dengan
penurunan fungsi laju filtrasi glomerular dan berakhir dengan keadaan gagal
ginjal yang memerlukan pengelolan dengan pengobatan substitusi. Pemeriksaan untuk
mencari mikroalbuminuria seyogyanya selalu dilakukan pada saat diagnosis diabetes melitus ditegakkan dan setelah itu diulang setiap tahun.9 Semakin lama
seseorang terkena diabetes melitus dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka
penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita
diabetes melitus juga terkait dengan neuropati atau kerusakan saraf.3 Kendali
glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati. Pembatasan
asupan protein dalam diet (0,8 g/kgBB) juga akan mengurangi risiko terjadinya
nefropati.1
3.
Neuropati
Komplikasi
yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa hilangnya
sensasi distal. Hal ini biasanya terjadi setelah glukosa darah terus tinggi,
tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih.
Apabila glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal, terkadang perbaikan
saraf bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak
berhasil diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding
pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi kerusakan
saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic
neuropathy). Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa
mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau
terlambat kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana
yang terkena.1,3
Penderita
diabetes melitus dengan neuropati perifer berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan
amputasi. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar
sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis diabetes melitus ditegakkan,
pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya
polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana. Adanya keluhan dan
kemudian ditegakkannya diagnosis neuropati diabetik mengharuskan kita untuk
berusaha mengendalikan konsentrasi glukosa darah sebaik mungkin dan perawatan kaki
yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. Pengelolaan keluhan neuropati
umumnya bersifat simtomatik, dan sering pula hasilnya kurang memuaskan. Pada
keadaan neuropati perifer yang disertai rasa sakit, berbagai usaha untuk
pencegahan dan pengelolaan diabetes melitus serta berbagai faktor risikonya harus juga
dikerjakan. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan duloxetine, antidepresan
trisiklik, atau gabapentin. Demikian pula obat berupa obat gosok seperti krim
Capsaicin (Capzacin) dapat dipakai pada penyandang diabetes melitus dengan neuropati yang
menyakitkan. Semua penyandang diabetes melitus yang disertai neuropati perifer harus diberikan
edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki. Untuk
penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan
bidang/disiplin ilmu lain.1,9
Berikut pembahasan mengenai diabetes melitus dalam blog ini meliputi epidemiologi diabetes melitus, definisi diabetes melitus, faktor risiko diabetes melitus, diagnosis dan pemeriksaan penyaring (screening) diabetes melitus, tipe atau klasifikasi diabetes melitus, dan komplikasi diabetes melitus.
Berikut pembahasan mengenai diabetes melitus dalam blog ini meliputi epidemiologi diabetes melitus, definisi diabetes melitus, faktor risiko diabetes melitus, diagnosis dan pemeriksaan penyaring (screening) diabetes melitus, tipe atau klasifikasi diabetes melitus, dan komplikasi diabetes melitus.
Referensi:
- Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia. 2011. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2011.
- Suyono, Slamet. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam
: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Ndraha, Suzanna. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana
Terkini. Medicinus Vol. 27, No. 2, Agustus 2014: 9-16.
- Purnamasari, Dyah. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes
Melitus. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2014. Panduan Praktik
Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta.
hlm 423-434.
- Soewondo, Pradana. Ketoasidosis Diabetik. Dalam :
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soewondo, Pradana. Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non
Ketotik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soemadji, Djoko Wahono. Hipoglikemia Iatrogenik. Dalam :
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Waspadji, Sarwono. Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme
Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Dalam : Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta:
InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar